Rabu, 03 April 2019

Kita bertemu lagi menjadi apa dan siapa (2)

"Selamat siang, maaf jika menunggu" ia mengucapkan nya seraya berjalan memunggungiku, aku tak bisa melihat wajahnya.

Dia duduk di kursinya, aku duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya, mata kami bertemu, waktu seketika seperti berhenti dan keheningan pun tercipta, hanya jam dinding yang bersaksi karena suara detiknya.

Aku, memberanikan diri untuk membuka percakapan, "selamat siang pak, saya kayla dari perusahaan Binasoft yang sebelumnya sudah email untuk janji bertemu".

"Jadi, gimana bu? Kita langsung ke point nya aja, saya cukup sibuk untuk hari ini karena ada meeting mendadak diluar jadwal"

Aku sempat terdiam kebingungan, bodoh memang malah diam dan tak berkutik karena aura serius dan dingin nya beliau membuatku mati kutu.

"Bu? Jadi gimana? Bu!" ia berhasil membuat keheningan ku pecah berantakan sekaligus menyadarkan ku untuk apa tujuan aku ingin bertemu dengan nya.

Setelah kami berbincang cukup lama, akhirnya project kantor kami di terima, konsep acara akan di kirim via email oleh sekertaris nya.

Aku berjalan keluar kantornya, menghubungi Pak Bimo bahwa project kami diterima, setelah itu Pak Bimo mengizinkan ku untuk pulang kantor lebih awal sebagai tanda terimakasih atas kerja kerasku mencari konseptor untuk kantor.

***

Hari ini aku pulang lebih awal, masih sangat siang untuk kembali ke rumah, setelah satu jam perjalanan menggunakan kereta, turunlah aku di stasiun Depok Baru, kali ini aku membawa mobil untuk jaga-jaga jika kejadian tak memungkinkan akan kembali terulang.

Aku melewati kedai waktu aku dan Atharva pernah bertemu, tanpa sadar aku tersenyum kecil, mendengarkan musik dari Meghan Trainor - Like i'm gonna lose you ft John Legend, semakin membuatku terhanyut.

Dan akhirnya aku memutuskan untuk putar balik dan ke kedai kopi.

Seperti biasa aku memesan macchiato dan sepotong strawberry cheese cake, kali ini aku menghabiskan waktu cukup lama, tidak, aku tidak menunggu Atharva, itu mustahil.

Ku buka laptop, mengecek pekerjaan-pekerjaan ku yang mungkin belum selesai, pesanan ku datang, "Mbak, ini macchiato sama strawberry cheese cake nya" seraya menaruhnya.

"Okey, terimakasih ya mas" dengan masih sibuk mengetik-ngetik pekerjaan ku dari Pak Bimo.

Setelah hampir 45 menit aku menyelesaikan pekerjaan, baru ku menyentuh macchiato nya, dan ada sepucuk surat kecil berwarna merah muda dengan tulisan singkat.

"Kalo surat ini sampe ke mbak, bales ya" - malaikat maut

"Ini Atharva", ucap ku dalam hati, aku bergegas ke meja bartender untuk menemui karyawan yang menangani pesanan ku. "Mbak, mas yang nganter pesanan saya dimana ya?"

"Maaf mbak, saya baru ganti shift sama Mas yang nganter pesanan mbak, ada apa ya? Ada yang mau di sampein mbak?" ucap karyawati kedai tersebut.

Aku terdiam, kembali duduk ke meja ku, melihat dan membaca lagi surat dari Atharva, aku bertanya-tanya maksud dan tujuannya untuk apa.

Akhirnya ku telfon Raina untuk meminta no telepon Atharva, ia bilang Atharva no nya tidak aktif lagi, aku bergegas membayar pesanan ku dan menuju ke Apartemen Atharva.

***

Sampailah aku disana, bertanya kepada resepsionis kamar Atharva no berapa, tapi yang mengejutkan ia bilang padaku bahwa Atharva tidak mengizinkan siapapun masuk jika tanpa perintahnya.

Iya untuk apa aku bela-belain sampai-sampai aku tidak pertaruhkan harga diriku, iya aku rindu saat bersama nya, meski itu hanya dalam waktu semalam.

Aku pergi meninggalkan Apartemen nya dan menuju rumah, sesampainya dirumah, aku terdiam dan berfikir lagi, untuk apa aku merindukan seseorang yang belum tentu merindukan ku juga.

Tak lama, aku izin padaku bahwa aku ingin pergi keluar, terdengar konyol memang, bahwa aku merindukan nya.

"Bu, kay pergi dulu ke luar cari angin, kalo ayah nyariin bilang aja kay lagi kencan biar ga bawel" ibuku hanya meggeleng dan tersenyum melihat tingkah anak satu-satunya ini.

***

Iya aku kembali ke kedai tersebut pukul 20:00 WIB, iya aku berharap Atharva kembali lagi, ada yang ingin aku sampaikan padanya.

Pintu kedai ku buka, berbunyi lah tanda pelanggan masuk, karyawati cantik menyapa ku dengan gembira.

"Selamat datang, lho mbak macchiato? Pesen kaya biasa mbak?" aku tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutnya

"Panggil aja mbak Kayla ya hehe" lalu dia tersenyum malu, kemudian seperti memohon ingin memanggilku dengan sebutan mbak macchiato

Ku izinkan dan ia mengantar pesanan ku, kali ini tidak ada surat lagi, dan cuaca hari ini cukup bagus untuk berlama-lama di kedai ini.

Selagi aku menikmati pesanan ku, pria yang tak asing datang dengan wanita cantik sambil tertawa gembira seraya mereka berjalan, pintu kedai dibuka oleh pria itu menandakan terlebih dahulu lah masuk, wanita cantik itu pun tersenyum padanya.

Berjalan menuju meja bartender memesan yang mereka mau, pria ini melihat-lihat setiap sudut isi kedai ini, kemudian mata kami bertemu, aku terdiam melihatnya dengan ekspresi datar seolah tak mengenalnya.

Mata nya membelalak ketika melihatku, mmenandakan ia tak menyangka bahwa aku ada disini, tepat dimana awal kami bertemu, dan dengan meja yang sama.

Ya, dia adalah Atharva

Awalnya aku memang sangat ingin menyampaikan sesuau padanya, tak peduli ia bersama wanita itu, namun aku urungkan niat ku ketika mata kami sedang bertemu, wanita itu memanggil Atharva dengan sebutan "sayang".

Aku beranjak pergi, ia tak menahan ku, dan aku tak menghampiri nya, kami seperti tidak pernah saling mengenal satu sama lain.

Sabtu, 05 Januari 2019

Kita bertemu lagi menjadi apa dan siapa

Balik lagi sama Mbak Kayla yang galak tapi lemot dan Mas Atharva yang ngeselin, tapi mereka gemes kan? Hahaha

Selamat malam Kota Depok, Selamat beristirahat wahai udara ...

Di tengah malam ini, aku tertawa lepas karena Atharva, akhirnya ku lepas semua gengsi yang ku tahan sedari tadi. Atharva kuat menahan dinginnya udara malam ini, dia bilang ;

"Saya nahan dingin kaya gini mah kuat Mbak, yang ya gak kuat nahan kuping saya kalo Mbak teriak ngeliat gledek haha"  - Atharva

Atharva, lagi-lagi dia menguji kesabaranku, sepanjang jalan raya margonda.

"Mbak, kenapa jam segini belum pulang? Masih keluyuran di jalan kaya laron", entah dia sedang membuka topik pembicaraan atau tidak, pertanyaannya sangat tidak logis, padahal aku kan sama dia.

"Lah, aku jam segini belum pulang karena siapa? Karena mas lah", ucapku tegas padanya yang seakan-akan menyalahkannya.

"Loh kok saya Mbak? Yang saya ajak pulang tapi nolak kan Mbak, kalo saya tadi gak mampir di warung ketoprak, saya udah nyampe nih di istana saya terus gak ketemu Mbak, Mbak di godain terus Mbak diculik, Mbak di buang ke kali, Mbak amnesia, mbak setres terus mbak yah udah deh selesai deh", ucapnya sangat polos membuat ku tertawa sekaligus kesal dibuatnya.

"Atharva! Kamu ini jang ...", dia memotong bicaraku lagi.

"Pake mas nya dong Mbak, biar ...". Dia menggantungkan bicaranya lagi

"Biar apa? Dasar mesum!!". ku pukul kepalanya yang mengenakan helm, dia merengek kesakitan dan aku puas haha

"Mbak, sakit Mbak, kdrt nih ah males ah", dia merengek layaknya seorang pacar yang ngambek, aku tertawa melihat tingkahnya

Sepanjang jalan kami tertawa seperti seorang yang sudah saling mengenal lama, hawa dingin dan jam yang sudah menunjukkan pukul 00:50 WIB, membuatku mengantuk, tak sadar aku tidur di puunggung nya, tangannya yang dingin memegangi tanganku agar tetap pada posisi yang tak berubah.

Tak butuh waktu lama, atharva tidak main-main, dia benar-benar mengajakku ke apartementnya.

Sampai dikamarnya, dia menaruh tas dan meletak kan ku di kasurnya, "Ampun dah nih cewek berat bener kaya sapi".

Membuka kan kedua sepatu dan kaus kaki ku, lalu memakaikan aku selimutnya, "duh ini cewek ya sepatunya kenapa lucu begini modelnya, gak cocok sama orangnya yang galak ini mah"

Dia masuk ke kamar mandi untuk membasuh badannya yang sedari tadi kehujanan, setelah beres dan rapih, dia menghampiriku, "Hmmm mukanya ..."

Tahan Kayla jangan sekarang. Aku masih pura-pura tidur untuk tahu tujuannya apa membawa ku kesini.

Dia mengambil tas ku, mencari sesuatu yang mungkin bisa dia ambil kah? Ternyata tidak, aku terlalu berprasangka buruk. Tak lama dia keluar dari apartementnya, aku bangun dan bingung harus berbuat apa

"duh goblok goblok goblok, kenapa lu diem aja si kay, lu tuh baru kenal! Kalo udah gini gimana coba!!!!", suara pintu pun terdengar, itu Atharva. Aku akhirnya berbaring lagi dan pura-pura tidur kembali.

Dia membasuh wajahku, ini apalagi, semakin aku merasakan cairan di wajahku, aku sadar dia sedang membersihkan makeup ku.

"Atharva, kamu ini niat banget sih" - ucapku dalam hati

Setelah semuanya di rasa beres, dia tidur di sampingku, dag dig dug hati ku. Aku takut hal-hal yang tak aku inginkan terjadi, aku masih ingin hidup bahagia.

Tapi, aku mendengar suaranya selagi beranjak dari kasur, "lah ko gua tidur di samping Mbak gledek sih, ntar dia mikir macem-macem lagi", Atharva pindah ke sofa dan tidur di sana.

Hujan turun kembali, sangat deras, tapi tidak membuat ruangan ini dingin karena ada mesin penghangat ruangan yang di miliki Atharva.

Lagi-lagi petir dan kilat melakukan aksinya yang membuat ku terkejut sekaligus teriak dan menangis, Atharva yang tertidur nyenyak pun bersigap bangun, dia lupa bahwa ada aku di apartemennya.

"DUH ANJIR INI APA LAGI SI, MASA DI APARTEMEN ADA SETAN SI WOI!!!" Atharva terdiam sejenak setelah berteriak seperti itu, dia baru sadar bahwa aku yang menangis.

"Oh iya lupa Mbak Kayla!", dia menepuk jidatnya dan langsung beranjak ke kasur, seperti yang ia lakukan tadi, dia memelukku kembali sambil mengusap punggung dan kepalaku perlahan.

"Mbak, maaf ya saya katain setan, saya lupa ada Mbak, tidur ya Mbak, saya ngantuk", Atharva melepas pelukannya dan membaringkan aku untuk tidur, lalu dia kembali ke sofa nya untuk melanjutkan tidurnya.

"Atharva, terimakasih", ucapku dalam hati

Malam telah berganti ke pagi hari, aku bangun pukul 06:00 WIB, tetapi Atharva sudah tidak ada di sini, dimana dia? Aku mencoba mencarinya. Lalu, di meja makan ada sarapan pagi serta sepucuk surat kecil.

"Kalo laper saya udah masakin nasi goreng buat mbak, jangan lupa mandi sama jangan lupa pulang, ngerepotin aja" - malaikat maut

Aku terdiam dan tersenyum dicampur rasa sedikit kesal seusai membacanya, "sempet-sempetnya mikirin gue buat sarapan haha aneh dan namanya lagi apa banget ini"

Pagi yang indah, seperti ditemani pasangan yang lucu dan membuatku bahagia. Atharva sama sekali tidak menyentuhku saat aku tertidur, dia hanya membersihkan makeup di wajah ku lalu kembali tidur.

Aku bergegas pergi meninggalkan kediaman Atharva, tak meninggalkan sepucuk surat apapun untuknya. Karena bagiku, ini pertemuan terakhir ku bersamanya.

***

Sesampai di kantor ku, Raina berlari-lari kecil menghampiriku, banyak pertanyaan yang muncul di wajahnya.

"Kay, kay, kay! Gimana-gimana?", ucapnya pensaran.

"Gimana apanya?", balasku padanya.

"Sama athar, gimana? Serius kan kay orangnya? Dia emang gitu sih". Dia mencoba untuk mencomblangiku dengan atharva ya?

"Oh, jadi lo mau nyomblangin gue sama dia? Lo sakit ya na, masa cowo setengah waras gitu dikasih ke gue si na, yang mendingan dikit kek na, dan lo tau gak sih na? Duh parah deh gak ngerti lagi gue". ucapku pada raina seraya mengomel-ngomel karena kesal.

Raina, terdiam dan memasang wajah bingung, "bentar kay, maksudnya gimana? Gue nanya tentang konsepnya gimana, dia orangnya serius kalo ngejelasin konsep dan konsep nya selalu bikin client nya puas, ya karena emang dia konseptor".

"Kenapa lo nyambungnya ke comblang sih, lo tertarik ya?". Seraya meledekku, aku bingung harus bagaimana, sungguh, aku menyesal sudah berprasangka buruk pada Raina.

"Eh, gak gitu na. Btw gue udah batalin kerja sama, sama dia na, gua gak suka caranya dia ngenalin diri, konseptor apaan kaya gitu!", ucapku tegas pada Raina.

Raina terkejut mendengar ucapanku, persetan dengan hal-hal yang tadi dia dengar, tapi kali ini, dia sedikit berbeda, "Kay! Lo tau gak seberapa susahnya gue buat bujuk dia jadi konseptor acara kantor kita?!", raina sedikit tegas padaku.

Ku jawab santai tak peduli, "apasih na, lagian masih banyak konseptor yang mau jadi rekan kerja kita kali, dan juga, kantor kita ini ternama siapa yang gak mungkin gak nolak sih? Udahlah, gue mau ke ruangan gue,"

***

Jam makan siang pun tiba, aku menghampiri raina yang baru saja selesai rapat, "na, kantin yuk?". kami pun pergi menuju kantin, memesan makanan dan minuman, setelah menikmati makan siang, masih ada sisa waktu 40 menit sebelum berakhir.

"Na, gua udah nemu nih konseptor baru, dia dari perusahaan terkenal nih, namanya maskul, aneh ya namanya? Tapi susah juga buat ngehubunginnya", ucapku mengeluh ada Raina.

"Ya itu urusan lo, atharva depan mata lo tolak," raina menceletuk sambil memakan kentang gorengnya, baiklah ini salahku.

"Yah ko lo gitu si na, ya gue minta maaf deh. Abis ya na kalo lu kemarin di posisi gue pasti kesel deh, banget banget banget malah", Aku memasang wajah yang melas.

Raina melirikku beberapa detik, "iya iya gue maafin, gak usah lah masang muka yang minta di tabok gitu kay,". Aku dan Raina kembali berjalan menuju kantor.

***

"Duh maskul maskul siapa sih, apa gue coba hubungin no kantornya kali ya", Aku akhirnya memberanikan diri untuk menelfon kantor tersebut.

Suara telfon masih berdering memanggil, belum ada yang menjawab selama 30 detik, masih tetap aku menunggu sampai akhirnya terangkatlah telfon dariku, suara wanita yang lembut memecah keheningan di kepalaku.

"Hallo, dengan kantor Mari Berkonsep, ada yang bisa kami bantu?"

"Apa benar disini ada konseptor yang bernama maskul? Jika benar, apa bisa saya bertemu dengan beliau untuk kerjasama sebuah project?"

"Benar Bu, untuk pertemuan akan di atur oleh pihak kantor dan akan dikabarkan via email"

Akhirnya, usai sudah urusanku untuk mengurus konseptor baru, tak lama email masuk dari kantor Mari Berkonsep. Secepat itu ternyata, aku klik dan pertemuannya lusa? Dia tidak sesibuk yang aku bayangkan atau banyak waktu luang?

"Ah semoga kali ini bener nih, ketemuan di kantornya dan jam 2 siang, izin sih paling sama pak Bimo"

***

Lusa

Siang ini jakarta cukup panas, iya bagaimana tidak panas, ini pukul 13:45 WIB. Sesampainya aku di kantor Mari Berkonsep, aku berjalan menuju receptionist menjelaskan untuk pentingan apa dan bertemu siapa.

Kemudian ia langsung mengarahkan ku harus kemana dan tepat sampai di ruangannya, aku duduk dan menunggu nya sampai, biasa kalo kita yang butuh pasti kita yang nunggu.

Tak butuh waktu lama, pintu terbuka dan masuklah sesosok pria bertubuh tinggi, bepenampilan cowok metropolitan.

"Selamat siang, maaf jika menunggu" ia mengucapkan nya seraya berjalan memunggungiku, aku tak bisa melihat wajahnya.

Kamis, 03 Januari 2019

Awal pertemuan part 2

Hallo, ini lanjutan cerita kemarin ya ...
Aku, masih sempat berhenti di depan pintu kedai sebelum ku tarik lalu keluar, kalau kalian mikir Atharva akan minta maaf, itu salah. Seusai dia memanggilku, dia menghampiriku, "apakah dia akan menahanku? Harusnya sih iya". Sayangnya aku terlalu percaya diri.

"Mbak Kayla, jangan lupa bayar macchiato nya dong, kita kan bukan partner", dia menghentikanku hanya untuk bilang seperti itu, dengan nada bicara meledek. Oh tuhan, ingin rasanya aku melempar ke luar kedai lalu ku tertawakan bak ibu tiri di siaran televisi-televisi.

"Mas ... Kamu ini, argh", aku menahan kesal di genggaman tanganku, ke kasir lalu membayar pesananku tadi. Sial, kenapa tidak ada taksi online yang mengambil orderanku si. Gengsi jika aku harus kembali ke tempat duduk ku apalagi berhadapan dengan Atharva.

Akhirnya, aku memilih meneduh di dalam kedai, berdiri depan pintu kaca, melihat hujan turun deras, tak lama petir dan kilat memotret sangat terang dan keras suaranya di langit, aku shock. Karena aku astraphobia (rasa takut yang ekstrim terhadap petir dan kilat).

Aku tersungkur tepat di lantai kedai ini sambil menutup kedua telingaku dengan tangan, Atharva berlari menghampiriku, "Mbak, mbak Kayla! Ngapain sih tidur-tiduran di lantai gini, kalo mau di apartement saya ayo", Atharva andai kamu tahu, betapa takutnya aku pada petir dan kilat itu, aku bangun perlahan dan duduk di lantai, Atharva diam melihat ku menangis.

Dia, memelukku dan mengusap lembut punggung dan kepala ku, ia minta maaf atas kejadian aku tersungkur bukan kejadian sebelum nya, dia masih sempet-sempetnya ngeselin. "Mbak Kayla, maaf saya gak tau kalo mbak takut gledek, soalnya mbak kaya gledek sih kalo ngomel". Oh tuhan dia menyebutnya gledek, aku masih menangis dalam pelukannya.

"Lepasin!", tegasku padanya untuk melepaskan pelukannya, dia melepas pelukannya, "tunggu, masih ada petirnya, saya gak mau kamu kenapa-napa sekalian modus, saya sih jujur", oh tuhan Atharva kamu ini lelaki jenis apa bisa-bisa nya terang-terangan begitu.

"Lepasin! Basah tau baju Masnya!", Atharva melepas pelukannya, dan tertawa melihatku merengek seperti itu, aku sudah tidak peduli aku merengek pada orang yang tak aku kenal.

Atharva membantu ku berdiri dan berjalan menuju tempat duduk kami semula, dia berusaha meminjam selimut atau jaket pada karyawan toko. karena jaket ia basah, entah untuk apa, dia keluar kedai, Atharva ini hujan deras kamu mau kemana.

Tak lama dia kembali, kali ini dia pakai payung. Apa dia beli payung? Apa dia sewa ojek payung? Tapi ojeknya kok gak ada. Dia memberiku sebuah bingkisan, "ini apa?".

"Saya abis dari toko baju deket sini, nih saya beliin baju biar mbak gak masuk angin gara-gara saya peluk. Saya juga beliin mbak selimut nih", selimut? Untuk apa coba? Dirumah juga banyak.

Usai aku mengganti baju dari belakang, aku kembali duduk di hadapannya, "Yah lumayan lah selera Mas konseptor bagus juga buat ukuran baju cewek gini. Terus selimutnya buat apa?".

"Kepedean Mbak Kayla ini, saya gak milihin, saya minta tolong ke Mbak toko bajunya gini Mbak, tolong cariin baju cewek sekiranya buat cewek tubuh kecil tapi masih modis gitu.". Atharva aku ingin tertawa tapi ku tahan karena gengsi, dia lucu.

"Terus selimutnya buat apa? Mas konseptor mau modusin saya ya?", Atharva tertawa lagi mendengar pertanyaan ku. Emang ada yang aneh?

Dia mengambil selimutnya dari tanganku, lalu memakaikan ke diriku sampai menutupi bagian kepala dan tubuhku, sambil mengatakan
"Jadi, kalo ada gledek lagi Mbak bisa tutupan pake ini, gak perlu saya peluk lagi. Nanti ke enakan saya, Mbak gak tanggung jawab lagi kalo saya ...". Dia memotong perkataannya yang membuatku penasaran.

"Apa?! Kalo apa?!", aku menegaskan perkataanku sambil menatap nya dengan tajam, dia tersenyum melihat tingkah ku. Lalu aku? Aku hampir salting karena perlakuannya.

Tak sadar, sudah pukul 23:30 WIB yang artinya aku bersama Atharva sudah tiga jam di kedai ini, berceloteh tentang apapun yang membuatnya tertawa tapi membuatku kesal sendiri. Kami tidak berbincang tentang konsep acara, melainkan memperdebatkan hal-hal  yang tak penting.

"Mbak, tau gak kalo hujan itu ada yang bikin jatuh cinta?", dia ini sedang merayuku ya? Tidak semudah itu Atharva. Aku bukan perempuan-perempuan gampangan.

"Mas konseptor lagi mau ngerayu saya ya?! Gak sopan!", bentak ku padanya, lagi-lagi dia tertawa melihat ku seperti ini. "Mbak! Mbak kepedean banget nih Tukang cilok ya ampun", aku terdiam kesal melihat jawabannya.

"Nih ya, hujan yang bikin jatuh cinta itu, dihujani cinta ketika kita merasa nyaman dengan seseorang yang sedang bersama kita tanpa memikirkan beban", ucapnya perlahan sedikit puitis, aku terdiam melihatnya.

"Aaaaaaaaw!", aku teriak dan menutupi wajah menggunakan selimut ketika petir dan kilat itu ada lagi, namun ada tangan yang merangkul ku hangat. Ketika aku mengintip, itu Atharva.

"Atharva, terimakasih" ucapku dalam hati.

"Mbak! Maaf ya saya modus lagi hahaha", dia selalu mudah mengatakan hal-hal intim seperti itu, oh tuhan entah mengapa aku merasa tidak khawatir ketika bersamanya, padahal aku baru saja mengenalnya.

"Mbak, gledeknya udah gak ada, pulang yuk, hujannya juga udah reda", dia membuka tutupan selimut di wajah ku.

"Pulang sama saya yu, tenang saya modus kok, eh gak modus maksudnya hahaha", Atharva selalu membuatku kesal dengan ucapan-ucapannya yang menyebalkan.

"Enggak! Makasih! Saya naik taksi online aja!", aku membuka aplikasinya dan meningglkan Atharva di kedai.

Tak lama Atharva menyusulku keluar dan meningglkan ku begitu saja, seperti benar-benar tidak saling mengenal. cih cowok macem apa kamu. Sudah hampir jam 12 malam aku masih di depan kedai, sampai kedai ini tutup, dan belum ada taksi online yang mengambil orderan ku.

Masih menunggu, tiba-tiba ada mobil berhenti depan kedai ini, padahal taksi online ku belum ada yang menerima orderannya, jangan bilang ini Atharva lagi. Lelaki bertubuh tinggi, memakai pakaian casual

Ia menghampiriku dan mengajak ku pulang bersama nya, ini pilihan yang sulit, ingin menolak tapi pulang naik apa, terima aku takut.
"Hay kay! Kenapa masih disini? Pulang sama aku yuk?", ajaknya padaku, oh tuhan aku ingin menolak.

"He iya nal, aku abis ngopi aja, gimana ya aku lagi nunggu taksi online kok, makasih ya". Berharap dia segera pergi dari hadapanku ketika aku menolaknya. Nyata nya tidak, dia masih sama seperti dulu, kasar dan memaksa ku.

Dia menarik tangan ku dengan paksa, "NAL! Lepasin gak tangan lo! Pergi lo brengsek!", reflek aku menamparnya.

"Anjing! Cewek sialan lo!", dia merintih kesakitan dan aku berlari-lari berharap dia tidak mengejarku. Ya, dia adalah Ronald, mantan tunangan ku tiga bulan yang lalu.

Syukur dia tidak mengejarku, tapi lagi-lagi aku bodoh, malah berjalan di tepi jalan raya margonda tengah malem gini, kalo di tangkep polisi gimana Kayla!

Jalan di trotoar pake baju tipis gini gak pake jaket, bermodal selimut dari Atharva saja sudah syukur. Ketika aku berjalan pelan-pelan, ada pemotor yang mengikutiku, menggodaku terus menerus.

"Neng, sendirian aja neng, sini sama Abang neng", geli tahu gak! Tak ku gubris dia, lalu aku mengancamnya, "Mas! Saya teriak mas copet ya!"

"Ya teriak aja neng, saya mau tau coba", dia menantangku?

"Copeeeeeeet!!", aku berteriak kencang

"Eh eh bukan copet tau! Mbak? Mbak! Ini saya?", tak ku gubris, aku langsung menendang motor tersebut, gubrak! Jatuhlah.

Setelah aku lihat, ini bukan pemotor yang yang tadi menggodaku, tapi sudah berganti orang menjadi Atharva?! Aku baru ingat ketika aku teriak copet, aku menutup mataku. Apakah pemotor sebelumnya pergi?

"Mbak! Jahat banget sih, udah dibilang copet di jorokin lagi! Tega kamu roma! Eh ani! Eh entahlah", sempat-sempatnya dia melucu, aku tertawa melihat dia tersungkur dengan tampang yang melas.

"Mas konseptor?! Maaf aku gak sengaja, aku gak tau kalo itu mas haha sini sini aku bantu". aku membantu dia berdiri lalu ia mendirikan motornya.

"Ada yang rusak gak?", tanyaku khawatir padanya, "ada nih, kaki saya sakit" ucap Atharva

"Ahaha itu si bodoamat", aku kembali tertawa

"Mbak kalo ketawa gitu serem, tengah malem gini lagi, saha ieu?", Atharva lagi-lagi mencoba melucu sambil memegang kepalaku.

"Oiya Mbak, jangan panggil saya mas konseptor dong, saya kan bukan konseptor Mbak, panggil saya atharva, pake Mas juga boleh", ucapnya yang meledek padaku.

Aku terdiam kesal melihat tingkahnya, lalu dia menarik tanganku dan menyuruhku naik ke motor bersama nya.

"Ayo naik Mbak, saya anter ke apartemen saya", Atharva terimakasih malam ini kamu lucu.
Akhirnya aku memilih pulang bersama Atharva, tidak memikirkan yang lain-lain, yang terpenting aku tidak jalan, bagaimana nantinya urusan belakangan.

Dan di tengah malam jalan raya margonda yang dingin, entah mengapa semua menjadi hangat dengan seseorang yang baru ku kenal.
Depok, kedai, dan hujan terimakasih atas pertemuan ini, tak terkecuali teman baikku, Raina!

Rabu, 02 Januari 2019

Awal pertemuan

Kedai Kopi, 18 maret 2014, Depok.

Senja sudah kembali ke rumah nya, kini malam menyambut ku cukup dingin seusai hujan reda. Aku sampai di kedai kopi terlebih dahulu, memesan macchiato sambil menunggu rekan kerja ku untuk sebuah acara yang akan ku selenggarakan, ya dia adalah seoarang konseptor. Tunggu, kami belum saling mengenal, semua pertemuan di atur oleh temanku.

Sudah satu jam aku menunggu, tapi dia tak kunjung datang begitu pun dengan temanku Raina yang menelfon berhalangan hadir, tapi setidak nya ia memberi kabar, sedangkan si konseptor ini, kami bertukar kontak saja tidak, sialnya raina tidak bisa di hubungi lagi, aku hanya ingin meminta kontak si konseptor, dan segala umpatan tertambat di tenggorokan.

Hujan kembali menyambut, cukup deras jika di terjang, melihat airnya yang turun melukis jendela kedai ini cukup membuat kesal ku reda. Tapi, ada yang menarik, lelaki bertubuh tinggi, hitam manis berlari-lari dari sebrang jalan menuju kedai kopi. Basah kuyup? Oh tentu saja, aku tertawa kecil melihat nya, betapa bodoh nya dia tidak menyewa ojek payung.

Kembali melihat rintik hujan yang menghiasi jendela, oh tuhan aku sudah cukup sabar menunggu, untung saja ini hujan, jika tidak aku memilih pulang dibanding menunggu si konseptor ini sampai dua jam, gila!

Tunggu, Mas basah kuyup ini datang menghampiriku sambil membawa segelas air putih cukup panas untuk menghangatkan badannya mungkin, tak ku hiraukan lalu kembali ke arah jendela. "eh kok mas ini duduk di depanku", ucap dalam hatiku, tak lama ia duduk, terucap kalimat dari bibirnya yang agak gemetar.

"Maaf nunggu lama, tadi kejebak macet, kamu tau kan jalan margonda di jam-jam pulang kantor gini gimana?"

Mas ini kerasukan sih kayanya, datang tiba-tiba terus ngomong kaya gitu, masih aku tak hiraukan. "Mbak Kayla kan?", ucapnya dengan nada gemetar. Aku menengok ke arahnya, sedikit terkejut ia menyebut namaku, "Kok tau? Penguntit ya!?", dia tertawa. "Malah ketawa! Siapa!? Penguntit!? Stalker!? Mata-mat ...". Aku terdiam ketika dia membuka suara lagi.

"Stop! Saya gak kaya gitu dan lagi, yang kamu sebutin itu persepsi nya hampir sama semua tau hahaha", ucapnya. Ooh tuhan dia menyebalkan sekali, aku rasa ini hari sialku, Raina batal hadir, si konseptor sialan itu tak kunjung datang, kemudian mas basah kuyub ini tiba-tiba nongol kaya jelangkung.

Tak ku gubris, ku diamkan saja, mengambil earphone dan mendengarkan lagu, dia tersenyum melihatku, ya ampun ini creepy banget si. Mau pulang tapi lupa kalo hari ini enggak bawa kendaraan pribadi, oh aku akhirnya aku memilih naik taksi online, baru ku buka aplikasinya, mas ini mencabut earphone phone sebelah kiri ku tanpa izin, sungguh, kali ini aku sudah amat kesal.

"Lo siapa sih!", aku berdiri menggebrak meja dan menarik earphone ku dengan tegas, pengunjung kedai dan para karyawan beberapa detik memperhatikan ku. Sudah putus urat malu ku, persetan dengan keadaan, ini keterlaluan.

Dia tersontak melihatku seperti itu, anehnya dia hanya tersenyum kembali, lalu ia berbicara kepada semua orang di kedai ini, "Maaf semuanya, temen saya lagi latihan akting". What the ... Ini orang sakit kayanya.

"Mbak kayla, maaf ya saya nyebelin, udah buat mbak nunggu lama juga, saya Atharva, konseptor acara mbak nanti". Tunggu, dia konseptor yang aku tungguin sampai dua jam dan membuatku malu seisi kedai ini? Raina sehat enggak sih konseptor kaya gini dikasih ke aku, sungguh aku kaget.

"Tunggu, lo eh kamu enggak-enggak, anda konseptor untuk acara saya?", aku masih dalam keadaan sungguh sangat terkejut, konseptor kaya dia bisa-bisanya ada, dia nih cocoknya di rumah sakit jiwa.

"Iya Mbak, santai aja, gak usah terlalu formal, kita ini cuma berdua di kedai bukan di kantor Mbak", ya gila, dia nyuruh aku santai tapi manggil Nya Mbak, kenapa si?. "Oh ok, kita langsung aja ya ke intinya, saya mau buat acara untuk kantor saya di puncak dengan tema yang sekir...", Atharva, kembali memotong pembicaraanku.

"Mbak, saya pusing banget nih, saya tidur dulu 15 menit gimana? Saya gak bisa mikir lho nanti". Sungguh, aku sangat amat kesal dengan nya. Kali ini aku sudah tidak peduli dan memutuskan untuk tidak kerja sama dengannya.

"Mas Atharva yang terhormat, dengan sadar saya memutuskan untuk tidak ingin bekerja sama dengan anda, terimakasih!". Aku berdiri, mengambil tas kemudian pergi meninggalkannya disana.

"Mbak Kayla! Tunggu dulu", aku menengok yang belum sampai keluar pintu kedai ini, dia memanggilku, mungkin merasa bersalah dan meminta maaf lalu membujuk ku untuk bekerja sama dengan nya, nyata nya enggak begitu, dia masih sama menyebalkan.