Rabu, 03 April 2019

Kita bertemu lagi menjadi apa dan siapa (2)

"Selamat siang, maaf jika menunggu" ia mengucapkan nya seraya berjalan memunggungiku, aku tak bisa melihat wajahnya.

Dia duduk di kursinya, aku duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya, mata kami bertemu, waktu seketika seperti berhenti dan keheningan pun tercipta, hanya jam dinding yang bersaksi karena suara detiknya.

Aku, memberanikan diri untuk membuka percakapan, "selamat siang pak, saya kayla dari perusahaan Binasoft yang sebelumnya sudah email untuk janji bertemu".

"Jadi, gimana bu? Kita langsung ke point nya aja, saya cukup sibuk untuk hari ini karena ada meeting mendadak diluar jadwal"

Aku sempat terdiam kebingungan, bodoh memang malah diam dan tak berkutik karena aura serius dan dingin nya beliau membuatku mati kutu.

"Bu? Jadi gimana? Bu!" ia berhasil membuat keheningan ku pecah berantakan sekaligus menyadarkan ku untuk apa tujuan aku ingin bertemu dengan nya.

Setelah kami berbincang cukup lama, akhirnya project kantor kami di terima, konsep acara akan di kirim via email oleh sekertaris nya.

Aku berjalan keluar kantornya, menghubungi Pak Bimo bahwa project kami diterima, setelah itu Pak Bimo mengizinkan ku untuk pulang kantor lebih awal sebagai tanda terimakasih atas kerja kerasku mencari konseptor untuk kantor.

***

Hari ini aku pulang lebih awal, masih sangat siang untuk kembali ke rumah, setelah satu jam perjalanan menggunakan kereta, turunlah aku di stasiun Depok Baru, kali ini aku membawa mobil untuk jaga-jaga jika kejadian tak memungkinkan akan kembali terulang.

Aku melewati kedai waktu aku dan Atharva pernah bertemu, tanpa sadar aku tersenyum kecil, mendengarkan musik dari Meghan Trainor - Like i'm gonna lose you ft John Legend, semakin membuatku terhanyut.

Dan akhirnya aku memutuskan untuk putar balik dan ke kedai kopi.

Seperti biasa aku memesan macchiato dan sepotong strawberry cheese cake, kali ini aku menghabiskan waktu cukup lama, tidak, aku tidak menunggu Atharva, itu mustahil.

Ku buka laptop, mengecek pekerjaan-pekerjaan ku yang mungkin belum selesai, pesanan ku datang, "Mbak, ini macchiato sama strawberry cheese cake nya" seraya menaruhnya.

"Okey, terimakasih ya mas" dengan masih sibuk mengetik-ngetik pekerjaan ku dari Pak Bimo.

Setelah hampir 45 menit aku menyelesaikan pekerjaan, baru ku menyentuh macchiato nya, dan ada sepucuk surat kecil berwarna merah muda dengan tulisan singkat.

"Kalo surat ini sampe ke mbak, bales ya" - malaikat maut

"Ini Atharva", ucap ku dalam hati, aku bergegas ke meja bartender untuk menemui karyawan yang menangani pesanan ku. "Mbak, mas yang nganter pesanan saya dimana ya?"

"Maaf mbak, saya baru ganti shift sama Mas yang nganter pesanan mbak, ada apa ya? Ada yang mau di sampein mbak?" ucap karyawati kedai tersebut.

Aku terdiam, kembali duduk ke meja ku, melihat dan membaca lagi surat dari Atharva, aku bertanya-tanya maksud dan tujuannya untuk apa.

Akhirnya ku telfon Raina untuk meminta no telepon Atharva, ia bilang Atharva no nya tidak aktif lagi, aku bergegas membayar pesanan ku dan menuju ke Apartemen Atharva.

***

Sampailah aku disana, bertanya kepada resepsionis kamar Atharva no berapa, tapi yang mengejutkan ia bilang padaku bahwa Atharva tidak mengizinkan siapapun masuk jika tanpa perintahnya.

Iya untuk apa aku bela-belain sampai-sampai aku tidak pertaruhkan harga diriku, iya aku rindu saat bersama nya, meski itu hanya dalam waktu semalam.

Aku pergi meninggalkan Apartemen nya dan menuju rumah, sesampainya dirumah, aku terdiam dan berfikir lagi, untuk apa aku merindukan seseorang yang belum tentu merindukan ku juga.

Tak lama, aku izin padaku bahwa aku ingin pergi keluar, terdengar konyol memang, bahwa aku merindukan nya.

"Bu, kay pergi dulu ke luar cari angin, kalo ayah nyariin bilang aja kay lagi kencan biar ga bawel" ibuku hanya meggeleng dan tersenyum melihat tingkah anak satu-satunya ini.

***

Iya aku kembali ke kedai tersebut pukul 20:00 WIB, iya aku berharap Atharva kembali lagi, ada yang ingin aku sampaikan padanya.

Pintu kedai ku buka, berbunyi lah tanda pelanggan masuk, karyawati cantik menyapa ku dengan gembira.

"Selamat datang, lho mbak macchiato? Pesen kaya biasa mbak?" aku tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutnya

"Panggil aja mbak Kayla ya hehe" lalu dia tersenyum malu, kemudian seperti memohon ingin memanggilku dengan sebutan mbak macchiato

Ku izinkan dan ia mengantar pesanan ku, kali ini tidak ada surat lagi, dan cuaca hari ini cukup bagus untuk berlama-lama di kedai ini.

Selagi aku menikmati pesanan ku, pria yang tak asing datang dengan wanita cantik sambil tertawa gembira seraya mereka berjalan, pintu kedai dibuka oleh pria itu menandakan terlebih dahulu lah masuk, wanita cantik itu pun tersenyum padanya.

Berjalan menuju meja bartender memesan yang mereka mau, pria ini melihat-lihat setiap sudut isi kedai ini, kemudian mata kami bertemu, aku terdiam melihatnya dengan ekspresi datar seolah tak mengenalnya.

Mata nya membelalak ketika melihatku, mmenandakan ia tak menyangka bahwa aku ada disini, tepat dimana awal kami bertemu, dan dengan meja yang sama.

Ya, dia adalah Atharva

Awalnya aku memang sangat ingin menyampaikan sesuau padanya, tak peduli ia bersama wanita itu, namun aku urungkan niat ku ketika mata kami sedang bertemu, wanita itu memanggil Atharva dengan sebutan "sayang".

Aku beranjak pergi, ia tak menahan ku, dan aku tak menghampiri nya, kami seperti tidak pernah saling mengenal satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar