Sabtu, 05 Januari 2019

Kita bertemu lagi menjadi apa dan siapa

Balik lagi sama Mbak Kayla yang galak tapi lemot dan Mas Atharva yang ngeselin, tapi mereka gemes kan? Hahaha

Selamat malam Kota Depok, Selamat beristirahat wahai udara ...

Di tengah malam ini, aku tertawa lepas karena Atharva, akhirnya ku lepas semua gengsi yang ku tahan sedari tadi. Atharva kuat menahan dinginnya udara malam ini, dia bilang ;

"Saya nahan dingin kaya gini mah kuat Mbak, yang ya gak kuat nahan kuping saya kalo Mbak teriak ngeliat gledek haha"  - Atharva

Atharva, lagi-lagi dia menguji kesabaranku, sepanjang jalan raya margonda.

"Mbak, kenapa jam segini belum pulang? Masih keluyuran di jalan kaya laron", entah dia sedang membuka topik pembicaraan atau tidak, pertanyaannya sangat tidak logis, padahal aku kan sama dia.

"Lah, aku jam segini belum pulang karena siapa? Karena mas lah", ucapku tegas padanya yang seakan-akan menyalahkannya.

"Loh kok saya Mbak? Yang saya ajak pulang tapi nolak kan Mbak, kalo saya tadi gak mampir di warung ketoprak, saya udah nyampe nih di istana saya terus gak ketemu Mbak, Mbak di godain terus Mbak diculik, Mbak di buang ke kali, Mbak amnesia, mbak setres terus mbak yah udah deh selesai deh", ucapnya sangat polos membuat ku tertawa sekaligus kesal dibuatnya.

"Atharva! Kamu ini jang ...", dia memotong bicaraku lagi.

"Pake mas nya dong Mbak, biar ...". Dia menggantungkan bicaranya lagi

"Biar apa? Dasar mesum!!". ku pukul kepalanya yang mengenakan helm, dia merengek kesakitan dan aku puas haha

"Mbak, sakit Mbak, kdrt nih ah males ah", dia merengek layaknya seorang pacar yang ngambek, aku tertawa melihat tingkahnya

Sepanjang jalan kami tertawa seperti seorang yang sudah saling mengenal lama, hawa dingin dan jam yang sudah menunjukkan pukul 00:50 WIB, membuatku mengantuk, tak sadar aku tidur di puunggung nya, tangannya yang dingin memegangi tanganku agar tetap pada posisi yang tak berubah.

Tak butuh waktu lama, atharva tidak main-main, dia benar-benar mengajakku ke apartementnya.

Sampai dikamarnya, dia menaruh tas dan meletak kan ku di kasurnya, "Ampun dah nih cewek berat bener kaya sapi".

Membuka kan kedua sepatu dan kaus kaki ku, lalu memakaikan aku selimutnya, "duh ini cewek ya sepatunya kenapa lucu begini modelnya, gak cocok sama orangnya yang galak ini mah"

Dia masuk ke kamar mandi untuk membasuh badannya yang sedari tadi kehujanan, setelah beres dan rapih, dia menghampiriku, "Hmmm mukanya ..."

Tahan Kayla jangan sekarang. Aku masih pura-pura tidur untuk tahu tujuannya apa membawa ku kesini.

Dia mengambil tas ku, mencari sesuatu yang mungkin bisa dia ambil kah? Ternyata tidak, aku terlalu berprasangka buruk. Tak lama dia keluar dari apartementnya, aku bangun dan bingung harus berbuat apa

"duh goblok goblok goblok, kenapa lu diem aja si kay, lu tuh baru kenal! Kalo udah gini gimana coba!!!!", suara pintu pun terdengar, itu Atharva. Aku akhirnya berbaring lagi dan pura-pura tidur kembali.

Dia membasuh wajahku, ini apalagi, semakin aku merasakan cairan di wajahku, aku sadar dia sedang membersihkan makeup ku.

"Atharva, kamu ini niat banget sih" - ucapku dalam hati

Setelah semuanya di rasa beres, dia tidur di sampingku, dag dig dug hati ku. Aku takut hal-hal yang tak aku inginkan terjadi, aku masih ingin hidup bahagia.

Tapi, aku mendengar suaranya selagi beranjak dari kasur, "lah ko gua tidur di samping Mbak gledek sih, ntar dia mikir macem-macem lagi", Atharva pindah ke sofa dan tidur di sana.

Hujan turun kembali, sangat deras, tapi tidak membuat ruangan ini dingin karena ada mesin penghangat ruangan yang di miliki Atharva.

Lagi-lagi petir dan kilat melakukan aksinya yang membuat ku terkejut sekaligus teriak dan menangis, Atharva yang tertidur nyenyak pun bersigap bangun, dia lupa bahwa ada aku di apartemennya.

"DUH ANJIR INI APA LAGI SI, MASA DI APARTEMEN ADA SETAN SI WOI!!!" Atharva terdiam sejenak setelah berteriak seperti itu, dia baru sadar bahwa aku yang menangis.

"Oh iya lupa Mbak Kayla!", dia menepuk jidatnya dan langsung beranjak ke kasur, seperti yang ia lakukan tadi, dia memelukku kembali sambil mengusap punggung dan kepalaku perlahan.

"Mbak, maaf ya saya katain setan, saya lupa ada Mbak, tidur ya Mbak, saya ngantuk", Atharva melepas pelukannya dan membaringkan aku untuk tidur, lalu dia kembali ke sofa nya untuk melanjutkan tidurnya.

"Atharva, terimakasih", ucapku dalam hati

Malam telah berganti ke pagi hari, aku bangun pukul 06:00 WIB, tetapi Atharva sudah tidak ada di sini, dimana dia? Aku mencoba mencarinya. Lalu, di meja makan ada sarapan pagi serta sepucuk surat kecil.

"Kalo laper saya udah masakin nasi goreng buat mbak, jangan lupa mandi sama jangan lupa pulang, ngerepotin aja" - malaikat maut

Aku terdiam dan tersenyum dicampur rasa sedikit kesal seusai membacanya, "sempet-sempetnya mikirin gue buat sarapan haha aneh dan namanya lagi apa banget ini"

Pagi yang indah, seperti ditemani pasangan yang lucu dan membuatku bahagia. Atharva sama sekali tidak menyentuhku saat aku tertidur, dia hanya membersihkan makeup di wajah ku lalu kembali tidur.

Aku bergegas pergi meninggalkan kediaman Atharva, tak meninggalkan sepucuk surat apapun untuknya. Karena bagiku, ini pertemuan terakhir ku bersamanya.

***

Sesampai di kantor ku, Raina berlari-lari kecil menghampiriku, banyak pertanyaan yang muncul di wajahnya.

"Kay, kay, kay! Gimana-gimana?", ucapnya pensaran.

"Gimana apanya?", balasku padanya.

"Sama athar, gimana? Serius kan kay orangnya? Dia emang gitu sih". Dia mencoba untuk mencomblangiku dengan atharva ya?

"Oh, jadi lo mau nyomblangin gue sama dia? Lo sakit ya na, masa cowo setengah waras gitu dikasih ke gue si na, yang mendingan dikit kek na, dan lo tau gak sih na? Duh parah deh gak ngerti lagi gue". ucapku pada raina seraya mengomel-ngomel karena kesal.

Raina, terdiam dan memasang wajah bingung, "bentar kay, maksudnya gimana? Gue nanya tentang konsepnya gimana, dia orangnya serius kalo ngejelasin konsep dan konsep nya selalu bikin client nya puas, ya karena emang dia konseptor".

"Kenapa lo nyambungnya ke comblang sih, lo tertarik ya?". Seraya meledekku, aku bingung harus bagaimana, sungguh, aku menyesal sudah berprasangka buruk pada Raina.

"Eh, gak gitu na. Btw gue udah batalin kerja sama, sama dia na, gua gak suka caranya dia ngenalin diri, konseptor apaan kaya gitu!", ucapku tegas pada Raina.

Raina terkejut mendengar ucapanku, persetan dengan hal-hal yang tadi dia dengar, tapi kali ini, dia sedikit berbeda, "Kay! Lo tau gak seberapa susahnya gue buat bujuk dia jadi konseptor acara kantor kita?!", raina sedikit tegas padaku.

Ku jawab santai tak peduli, "apasih na, lagian masih banyak konseptor yang mau jadi rekan kerja kita kali, dan juga, kantor kita ini ternama siapa yang gak mungkin gak nolak sih? Udahlah, gue mau ke ruangan gue,"

***

Jam makan siang pun tiba, aku menghampiri raina yang baru saja selesai rapat, "na, kantin yuk?". kami pun pergi menuju kantin, memesan makanan dan minuman, setelah menikmati makan siang, masih ada sisa waktu 40 menit sebelum berakhir.

"Na, gua udah nemu nih konseptor baru, dia dari perusahaan terkenal nih, namanya maskul, aneh ya namanya? Tapi susah juga buat ngehubunginnya", ucapku mengeluh ada Raina.

"Ya itu urusan lo, atharva depan mata lo tolak," raina menceletuk sambil memakan kentang gorengnya, baiklah ini salahku.

"Yah ko lo gitu si na, ya gue minta maaf deh. Abis ya na kalo lu kemarin di posisi gue pasti kesel deh, banget banget banget malah", Aku memasang wajah yang melas.

Raina melirikku beberapa detik, "iya iya gue maafin, gak usah lah masang muka yang minta di tabok gitu kay,". Aku dan Raina kembali berjalan menuju kantor.

***

"Duh maskul maskul siapa sih, apa gue coba hubungin no kantornya kali ya", Aku akhirnya memberanikan diri untuk menelfon kantor tersebut.

Suara telfon masih berdering memanggil, belum ada yang menjawab selama 30 detik, masih tetap aku menunggu sampai akhirnya terangkatlah telfon dariku, suara wanita yang lembut memecah keheningan di kepalaku.

"Hallo, dengan kantor Mari Berkonsep, ada yang bisa kami bantu?"

"Apa benar disini ada konseptor yang bernama maskul? Jika benar, apa bisa saya bertemu dengan beliau untuk kerjasama sebuah project?"

"Benar Bu, untuk pertemuan akan di atur oleh pihak kantor dan akan dikabarkan via email"

Akhirnya, usai sudah urusanku untuk mengurus konseptor baru, tak lama email masuk dari kantor Mari Berkonsep. Secepat itu ternyata, aku klik dan pertemuannya lusa? Dia tidak sesibuk yang aku bayangkan atau banyak waktu luang?

"Ah semoga kali ini bener nih, ketemuan di kantornya dan jam 2 siang, izin sih paling sama pak Bimo"

***

Lusa

Siang ini jakarta cukup panas, iya bagaimana tidak panas, ini pukul 13:45 WIB. Sesampainya aku di kantor Mari Berkonsep, aku berjalan menuju receptionist menjelaskan untuk pentingan apa dan bertemu siapa.

Kemudian ia langsung mengarahkan ku harus kemana dan tepat sampai di ruangannya, aku duduk dan menunggu nya sampai, biasa kalo kita yang butuh pasti kita yang nunggu.

Tak butuh waktu lama, pintu terbuka dan masuklah sesosok pria bertubuh tinggi, bepenampilan cowok metropolitan.

"Selamat siang, maaf jika menunggu" ia mengucapkan nya seraya berjalan memunggungiku, aku tak bisa melihat wajahnya.

1 komentar: