Hallo, ini lanjutan cerita kemarin ya ...
Aku, masih sempat berhenti di depan pintu kedai sebelum ku tarik lalu keluar, kalau kalian mikir Atharva akan minta maaf, itu salah. Seusai dia memanggilku, dia menghampiriku, "apakah dia akan menahanku? Harusnya sih iya". Sayangnya aku terlalu percaya diri.
"Mbak Kayla, jangan lupa bayar macchiato nya dong, kita kan bukan partner", dia menghentikanku hanya untuk bilang seperti itu, dengan nada bicara meledek. Oh tuhan, ingin rasanya aku melempar ke luar kedai lalu ku tertawakan bak ibu tiri di siaran televisi-televisi.
"Mas ... Kamu ini, argh", aku menahan kesal di genggaman tanganku, ke kasir lalu membayar pesananku tadi. Sial, kenapa tidak ada taksi online yang mengambil orderanku si. Gengsi jika aku harus kembali ke tempat duduk ku apalagi berhadapan dengan Atharva.
Akhirnya, aku memilih meneduh di dalam kedai, berdiri depan pintu kaca, melihat hujan turun deras, tak lama petir dan kilat memotret sangat terang dan keras suaranya di langit, aku shock. Karena aku astraphobia (rasa takut yang ekstrim terhadap petir dan kilat).
Aku tersungkur tepat di lantai kedai ini sambil menutup kedua telingaku dengan tangan, Atharva berlari menghampiriku, "Mbak, mbak Kayla! Ngapain sih tidur-tiduran di lantai gini, kalo mau di apartement saya ayo", Atharva andai kamu tahu, betapa takutnya aku pada petir dan kilat itu, aku bangun perlahan dan duduk di lantai, Atharva diam melihat ku menangis.
Dia, memelukku dan mengusap lembut punggung dan kepala ku, ia minta maaf atas kejadian aku tersungkur bukan kejadian sebelum nya, dia masih sempet-sempetnya ngeselin. "Mbak Kayla, maaf saya gak tau kalo mbak takut gledek, soalnya mbak kaya gledek sih kalo ngomel". Oh tuhan dia menyebutnya gledek, aku masih menangis dalam pelukannya.
"Lepasin!", tegasku padanya untuk melepaskan pelukannya, dia melepas pelukannya, "tunggu, masih ada petirnya, saya gak mau kamu kenapa-napa sekalian modus, saya sih jujur", oh tuhan Atharva kamu ini lelaki jenis apa bisa-bisa nya terang-terangan begitu.
"Lepasin! Basah tau baju Masnya!", Atharva melepas pelukannya, dan tertawa melihatku merengek seperti itu, aku sudah tidak peduli aku merengek pada orang yang tak aku kenal.
Atharva membantu ku berdiri dan berjalan menuju tempat duduk kami semula, dia berusaha meminjam selimut atau jaket pada karyawan toko. karena jaket ia basah, entah untuk apa, dia keluar kedai, Atharva ini hujan deras kamu mau kemana.
Tak lama dia kembali, kali ini dia pakai payung. Apa dia beli payung? Apa dia sewa ojek payung? Tapi ojeknya kok gak ada. Dia memberiku sebuah bingkisan, "ini apa?".
"Saya abis dari toko baju deket sini, nih saya beliin baju biar mbak gak masuk angin gara-gara saya peluk. Saya juga beliin mbak selimut nih", selimut? Untuk apa coba? Dirumah juga banyak.
Usai aku mengganti baju dari belakang, aku kembali duduk di hadapannya, "Yah lumayan lah selera Mas konseptor bagus juga buat ukuran baju cewek gini. Terus selimutnya buat apa?".
"Kepedean Mbak Kayla ini, saya gak milihin, saya minta tolong ke Mbak toko bajunya gini Mbak, tolong cariin baju cewek sekiranya buat cewek tubuh kecil tapi masih modis gitu.". Atharva aku ingin tertawa tapi ku tahan karena gengsi, dia lucu.
"Terus selimutnya buat apa? Mas konseptor mau modusin saya ya?", Atharva tertawa lagi mendengar pertanyaan ku. Emang ada yang aneh?
Dia mengambil selimutnya dari tanganku, lalu memakaikan ke diriku sampai menutupi bagian kepala dan tubuhku, sambil mengatakan
"Jadi, kalo ada gledek lagi Mbak bisa tutupan pake ini, gak perlu saya peluk lagi. Nanti ke enakan saya, Mbak gak tanggung jawab lagi kalo saya ...". Dia memotong perkataannya yang membuatku penasaran.
"Apa?! Kalo apa?!", aku menegaskan perkataanku sambil menatap nya dengan tajam, dia tersenyum melihat tingkah ku. Lalu aku? Aku hampir salting karena perlakuannya.
Tak sadar, sudah pukul 23:30 WIB yang artinya aku bersama Atharva sudah tiga jam di kedai ini, berceloteh tentang apapun yang membuatnya tertawa tapi membuatku kesal sendiri. Kami tidak berbincang tentang konsep acara, melainkan memperdebatkan hal-hal yang tak penting.
"Mbak, tau gak kalo hujan itu ada yang bikin jatuh cinta?", dia ini sedang merayuku ya? Tidak semudah itu Atharva. Aku bukan perempuan-perempuan gampangan.
"Mas konseptor lagi mau ngerayu saya ya?! Gak sopan!", bentak ku padanya, lagi-lagi dia tertawa melihat ku seperti ini. "Mbak! Mbak kepedean banget nih Tukang cilok ya ampun", aku terdiam kesal melihat jawabannya.
"Nih ya, hujan yang bikin jatuh cinta itu, dihujani cinta ketika kita merasa nyaman dengan seseorang yang sedang bersama kita tanpa memikirkan beban", ucapnya perlahan sedikit puitis, aku terdiam melihatnya.
"Aaaaaaaaw!", aku teriak dan menutupi wajah menggunakan selimut ketika petir dan kilat itu ada lagi, namun ada tangan yang merangkul ku hangat. Ketika aku mengintip, itu Atharva.
"Atharva, terimakasih" ucapku dalam hati.
"Mbak! Maaf ya saya modus lagi hahaha", dia selalu mudah mengatakan hal-hal intim seperti itu, oh tuhan entah mengapa aku merasa tidak khawatir ketika bersamanya, padahal aku baru saja mengenalnya.
"Mbak, gledeknya udah gak ada, pulang yuk, hujannya juga udah reda", dia membuka tutupan selimut di wajah ku.
"Pulang sama saya yu, tenang saya modus kok, eh gak modus maksudnya hahaha", Atharva selalu membuatku kesal dengan ucapan-ucapannya yang menyebalkan.
"Enggak! Makasih! Saya naik taksi online aja!", aku membuka aplikasinya dan meningglkan Atharva di kedai.
Tak lama Atharva menyusulku keluar dan meningglkan ku begitu saja, seperti benar-benar tidak saling mengenal. cih cowok macem apa kamu. Sudah hampir jam 12 malam aku masih di depan kedai, sampai kedai ini tutup, dan belum ada taksi online yang mengambil orderan ku.
Masih menunggu, tiba-tiba ada mobil berhenti depan kedai ini, padahal taksi online ku belum ada yang menerima orderannya, jangan bilang ini Atharva lagi. Lelaki bertubuh tinggi, memakai pakaian casual
Ia menghampiriku dan mengajak ku pulang bersama nya, ini pilihan yang sulit, ingin menolak tapi pulang naik apa, terima aku takut.
"Hay kay! Kenapa masih disini? Pulang sama aku yuk?", ajaknya padaku, oh tuhan aku ingin menolak.
"He iya nal, aku abis ngopi aja, gimana ya aku lagi nunggu taksi online kok, makasih ya". Berharap dia segera pergi dari hadapanku ketika aku menolaknya. Nyata nya tidak, dia masih sama seperti dulu, kasar dan memaksa ku.
"He iya nal, aku abis ngopi aja, gimana ya aku lagi nunggu taksi online kok, makasih ya". Berharap dia segera pergi dari hadapanku ketika aku menolaknya. Nyata nya tidak, dia masih sama seperti dulu, kasar dan memaksa ku.
Dia menarik tangan ku dengan paksa, "NAL! Lepasin gak tangan lo! Pergi lo brengsek!", reflek aku menamparnya.
"Anjing! Cewek sialan lo!", dia merintih kesakitan dan aku berlari-lari berharap dia tidak mengejarku. Ya, dia adalah Ronald, mantan tunangan ku tiga bulan yang lalu.
Syukur dia tidak mengejarku, tapi lagi-lagi aku bodoh, malah berjalan di tepi jalan raya margonda tengah malem gini, kalo di tangkep polisi gimana Kayla!
Jalan di trotoar pake baju tipis gini gak pake jaket, bermodal selimut dari Atharva saja sudah syukur. Ketika aku berjalan pelan-pelan, ada pemotor yang mengikutiku, menggodaku terus menerus.
"Neng, sendirian aja neng, sini sama Abang neng", geli tahu gak! Tak ku gubris dia, lalu aku mengancamnya, "Mas! Saya teriak mas copet ya!"
"Ya teriak aja neng, saya mau tau coba", dia menantangku?
"Copeeeeeeet!!", aku berteriak kencang
"Eh eh bukan copet tau! Mbak? Mbak! Ini saya?", tak ku gubris, aku langsung menendang motor tersebut, gubrak! Jatuhlah.
Setelah aku lihat, ini bukan pemotor yang yang tadi menggodaku, tapi sudah berganti orang menjadi Atharva?! Aku baru ingat ketika aku teriak copet, aku menutup mataku. Apakah pemotor sebelumnya pergi?
"Mbak! Jahat banget sih, udah dibilang copet di jorokin lagi! Tega kamu roma! Eh ani! Eh entahlah", sempat-sempatnya dia melucu, aku tertawa melihat dia tersungkur dengan tampang yang melas.
"Mas konseptor?! Maaf aku gak sengaja, aku gak tau kalo itu mas haha sini sini aku bantu". aku membantu dia berdiri lalu ia mendirikan motornya.
"Ada yang rusak gak?", tanyaku khawatir padanya, "ada nih, kaki saya sakit" ucap Atharva
"Ahaha itu si bodoamat", aku kembali tertawa
"Mbak kalo ketawa gitu serem, tengah malem gini lagi, saha ieu?", Atharva lagi-lagi mencoba melucu sambil memegang kepalaku.
"Oiya Mbak, jangan panggil saya mas konseptor dong, saya kan bukan konseptor Mbak, panggil saya atharva, pake Mas juga boleh", ucapnya yang meledek padaku.
Aku terdiam kesal melihat tingkahnya, lalu dia menarik tanganku dan menyuruhku naik ke motor bersama nya.
"Ayo naik Mbak, saya anter ke apartemen saya", Atharva terimakasih malam ini kamu lucu.
Akhirnya aku memilih pulang bersama Atharva, tidak memikirkan yang lain-lain, yang terpenting aku tidak jalan, bagaimana nantinya urusan belakangan.
Dan di tengah malam jalan raya margonda yang dingin, entah mengapa semua menjadi hangat dengan seseorang yang baru ku kenal.
Depok, kedai, dan hujan terimakasih atas pertemuan ini, tak terkecuali teman baikku, Raina!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar