Kedai Kopi, 18 maret 2014, Depok.
Senja sudah kembali ke rumah nya, kini malam menyambut ku cukup dingin seusai hujan reda. Aku sampai di kedai kopi terlebih dahulu, memesan macchiato sambil menunggu rekan kerja ku untuk sebuah acara yang akan ku selenggarakan, ya dia adalah seoarang konseptor. Tunggu, kami belum saling mengenal, semua pertemuan di atur oleh temanku.
Sudah satu jam aku menunggu, tapi dia tak kunjung datang begitu pun dengan temanku Raina yang menelfon berhalangan hadir, tapi setidak nya ia memberi kabar, sedangkan si konseptor ini, kami bertukar kontak saja tidak, sialnya raina tidak bisa di hubungi lagi, aku hanya ingin meminta kontak si konseptor, dan segala umpatan tertambat di tenggorokan.
Hujan kembali menyambut, cukup deras jika di terjang, melihat airnya yang turun melukis jendela kedai ini cukup membuat kesal ku reda. Tapi, ada yang menarik, lelaki bertubuh tinggi, hitam manis berlari-lari dari sebrang jalan menuju kedai kopi. Basah kuyup? Oh tentu saja, aku tertawa kecil melihat nya, betapa bodoh nya dia tidak menyewa ojek payung.
Kembali melihat rintik hujan yang menghiasi jendela, oh tuhan aku sudah cukup sabar menunggu, untung saja ini hujan, jika tidak aku memilih pulang dibanding menunggu si konseptor ini sampai dua jam, gila!
Tunggu, Mas basah kuyup ini datang menghampiriku sambil membawa segelas air putih cukup panas untuk menghangatkan badannya mungkin, tak ku hiraukan lalu kembali ke arah jendela. "eh kok mas ini duduk di depanku", ucap dalam hatiku, tak lama ia duduk, terucap kalimat dari bibirnya yang agak gemetar.
"Maaf nunggu lama, tadi kejebak macet, kamu tau kan jalan margonda di jam-jam pulang kantor gini gimana?"
Mas ini kerasukan sih kayanya, datang tiba-tiba terus ngomong kaya gitu, masih aku tak hiraukan. "Mbak Kayla kan?", ucapnya dengan nada gemetar. Aku menengok ke arahnya, sedikit terkejut ia menyebut namaku, "Kok tau? Penguntit ya!?", dia tertawa. "Malah ketawa! Siapa!? Penguntit!? Stalker!? Mata-mat ...". Aku terdiam ketika dia membuka suara lagi.
"Stop! Saya gak kaya gitu dan lagi, yang kamu sebutin itu persepsi nya hampir sama semua tau hahaha", ucapnya. Ooh tuhan dia menyebalkan sekali, aku rasa ini hari sialku, Raina batal hadir, si konseptor sialan itu tak kunjung datang, kemudian mas basah kuyub ini tiba-tiba nongol kaya jelangkung.
Tak ku gubris, ku diamkan saja, mengambil earphone dan mendengarkan lagu, dia tersenyum melihatku, ya ampun ini creepy banget si. Mau pulang tapi lupa kalo hari ini enggak bawa kendaraan pribadi, oh aku akhirnya aku memilih naik taksi online, baru ku buka aplikasinya, mas ini mencabut earphone phone sebelah kiri ku tanpa izin, sungguh, kali ini aku sudah amat kesal.
"Lo siapa sih!", aku berdiri menggebrak meja dan menarik earphone ku dengan tegas, pengunjung kedai dan para karyawan beberapa detik memperhatikan ku. Sudah putus urat malu ku, persetan dengan keadaan, ini keterlaluan.
Dia tersontak melihatku seperti itu, anehnya dia hanya tersenyum kembali, lalu ia berbicara kepada semua orang di kedai ini, "Maaf semuanya, temen saya lagi latihan akting". What the ... Ini orang sakit kayanya.
"Mbak kayla, maaf ya saya nyebelin, udah buat mbak nunggu lama juga, saya Atharva, konseptor acara mbak nanti". Tunggu, dia konseptor yang aku tungguin sampai dua jam dan membuatku malu seisi kedai ini? Raina sehat enggak sih konseptor kaya gini dikasih ke aku, sungguh aku kaget.
"Tunggu, lo eh kamu enggak-enggak, anda konseptor untuk acara saya?", aku masih dalam keadaan sungguh sangat terkejut, konseptor kaya dia bisa-bisanya ada, dia nih cocoknya di rumah sakit jiwa.
"Iya Mbak, santai aja, gak usah terlalu formal, kita ini cuma berdua di kedai bukan di kantor Mbak", ya gila, dia nyuruh aku santai tapi manggil Nya Mbak, kenapa si?. "Oh ok, kita langsung aja ya ke intinya, saya mau buat acara untuk kantor saya di puncak dengan tema yang sekir...", Atharva, kembali memotong pembicaraanku.
"Mbak, saya pusing banget nih, saya tidur dulu 15 menit gimana? Saya gak bisa mikir lho nanti". Sungguh, aku sangat amat kesal dengan nya. Kali ini aku sudah tidak peduli dan memutuskan untuk tidak kerja sama dengannya.
"Mas Atharva yang terhormat, dengan sadar saya memutuskan untuk tidak ingin bekerja sama dengan anda, terimakasih!". Aku berdiri, mengambil tas kemudian pergi meninggalkannya disana.
"Mbak Kayla! Tunggu dulu", aku menengok yang belum sampai keluar pintu kedai ini, dia memanggilku, mungkin merasa bersalah dan meminta maaf lalu membujuk ku untuk bekerja sama dengan nya, nyata nya enggak begitu, dia masih sama menyebalkan.
Bagus. Bisa mikir juga ternyata wkwk
BalasHapushahahaha Makasih ya pak
HapusLanjutanya dong nik wkwk
BalasHapusnanti ya hari sabtu, aku up setiap hari rabu dan sabtu hehe
HapusKenapa gak diwattpad
BalasHapusitu mas mas songong yak wkwkwk
BalasHapus